Home Berita Alumni Giat Malaka Hijau, Tak Sekadar Beropini Namun Juga Beraksi Nyata

Giat Malaka Hijau, Tak Sekadar Beropini Namun Juga Beraksi Nyata

245
0

Inilah kedelapan kalinya para pemuda Malaka yang terbentuk dalam komunitas Milenials Pecinta Malaka (MPM) melakukan kegiatan yang mereka namai Giat Malaka Hijau (Giat).

Kegiatan yang mengikutsertakan ratusan pemuda dan pemudi Malaka dari anak-anak, pelajar, mahasiswa hingga orang tua ini berlangsung di Desa Alas, Kecamatan Kobalima Timur, Kabupaten Malaka, pada Sabtu (23/04/2022). Bahkan Kepala Desa, Aparat Desa, Babinsa TNI dan Polri juga terlibat dalam kegiatan ini. (Lihat juga https://www.youtube.com/watch?v=gZ0hq_lRmHM&t=3s)

Koordinator MPM Roy Tei Seran yang juga alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta menyebutkan, Giat Malaka Hijau untuk pertama kalinya dilakukan pada 5 Desember 2021 saat musim penghujan sudah cukup stabil.

Awalnya, kata Roy, tiga pemuda terdiri dari Yanto Do Carmo dan Dyon Leki serta Roy sendiri kerap berdiskusi melalui jaringan media sosial Whatsapp tentang persoalan lingkungan. Entah tentang pemanasan global, kewajiban individu untuk menanam pohon sepanjang usia hidup, tanggung jawab ecosob manusia, refleksi kritis tentang warisan alam yang rusak pada anak cucu, dan persoalan bencana besar di hampir seluruh Provinsi Nusa Tenggara Timur khususnya Malaka.

“Mungkin pemerintah daerah telah membangun tanggul dari urugan tanah untuk menahan laju iar sungai, tapi hemat kami, tanggul tersebut perlu diperkuat dengan pohon yang yang ditanam, sehingga kelak, buahnya dapat dinikmati oleh siapa saja yang melewati tempat tersebut, batangnya dapat dipakai, dan akarnya menahan tanah agar tidak terjadi erosi,”ujar Roy menanggapi persoalan bencana besar yang belum lama terjadi di Malaka.

Dari diskusi itu, kemudian mereka mengajak saudara dan teman-teman untuk ikut bersama melakukan aktivitas pada Minggu, 5 Desember 2021. 20-an pemuda dan pemudi mulai menanam sekitar 100 batang anakan yang mereka bawa dari rumah masing-masing, baik bambu, nangka, mangga, mahoni dan asam yang hidup di pekarangan rumah.

Mereka menanam di sekitar Daerah Aliran Sungai Benenai, khususnya di jembatan Benenai yang sempat putus akibat bencana alam yang terjadi pada tanggal 21 April 2021. ( https://www.youtube.com/watch?v=yIg66SdEjaM&t=3s ).

Butuh Dana
Usai Giat pertama, mereka mengevaluasi kegiatan sembari menggalang dana lewat medsos. “Semangat sudah kami punyai, tenaga dan waktu sudah kami berikan. Antusiasme peserta makin meninggi, namun kami tidak punya cukup anakan lagi,”ujar Roy. Selain kebutuhan akan anakan pohon, Roy menyebutkan bahwa mereka juga butuh dana untuk membeli makan, bahan bakar serta menyewa kendaraan yang bisa mengangkut 30-an orang.

Dalam keterbatasan, Giat Malaka Hijau ke-2 pun berlanjut pada 12 Desember 2021. Lewat informasi mulut ke mulut serta medsos, peserta bahkan bertambah menjadi 70 orang. Anakan yang ditanam sudah 12 jenis di antaranya ; Jati Putih, Mente, Merbau, Bambu, Flamboyan, Trambesi, Asam, Jambu Air, Mangga, Cokelat, Kelor dan Beringin.

Jumlah dan jenis anakan bertambah banyak, sekitar 500 batang anakan pohon. Ini berkat dukungan dari Balai Pengelolah Daerah Aliran Sungai Benain-Noelmina (BPDAS Benain-Noelmina), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)-RI, ( https://www.youtube.com/watch?v=tW6nyFFdoDw ).

“Selain KLHK-RI, keluarga dan kenalan kami juga membantu. Berkat alumnus Seminari Lalian Pastor Paulus Halek SSCC, kami dipertemukan dengan seorang Ibu yang baik hati. Tante Ine Patah, kami menyebutnya. Lewat dia, mengalirlah donasi yang datang dari dalam maupun luar negeri,”ujar Roy.

Selain Ine, salah satu pemerhati isu lingkungan yang saat ini sedang melanjutkan studi doktoralnya di Roma, Italia Pastor Leo Mali juga membantu lewat jaringannya. Ada juga para ibu, Shirley dan Juliani yang selalu mendukung dengan memberi dana, benih pohon, maupun menyuntikkan motivasi bagi anak-anak muda ini. Juga menyelenggarakan webinar yang disponsori oleh KKI Italia Utara.

Akhirnya Giat ketiga ( https://www.youtube.com/watch?v=sgtv1agXTvA&t=10s ), keempat ( https://www.youtube.com/watch?v=iaXkqJrD_6g ), kelima ( https://www.youtube.com/watch?v=3QsdYEo_9m8 ), keenam ( https://www.youtube.com/watch?v=dBEE88Uiw8E&t=126s ), ketujuh ( https://www.youtube.com/watch?v=gZ0hq_lRmHM&t=3s ) dan sekarang kedelapan telah menghasilkan 5000-an batang pohon yang sudah ditanam. “Setiap kali menanam, kami hanya menanam ratusan. Paling banyak seribu batang anakan pohon. Ini agar efektif, efisien dan berhasil,”jelas Roy.

Di setiap aktivitas Giat, kata Roy, kelompok selalu memulai dan mengakhirinya dengan edukasi ringan tentang betapa pentingnya melestarikan alam dengan menanam pohon. Karena dari pohon, manusia memperoleh oksigen dan pohon mencegah bencana alam, merawat kehidupan manusia, baik di generasi ini maupun generasi selanjutnya.

“Oleh sebab itu, kami selalu berupaya mengajak dan melibatkan pemuda dan pelajar. Gerakan ini harus jadi gerakan komunal masif, yang membentuk banyak pemuda untuk merawat ibu bumi yang makin tua ini. Isu Global Warming harus ditanggapi dengan tindakan nyata bukan dengan opini,”ujar Roy.

Roy menyebutkan, ahli kehutanan bernama Andi Baros, S. Hut, seorang ASN di Dinas Kehutanan Provinsi NTT, Kantor Malaka menyebutkan, lubang yang digali saat menanam harus cukup dalam dan besar agar akar tanaman yang masih kecil bisa bertahan dan pohonnya hidup.

“Kami juga memagari pohon-pohon anakan dengan ranting berduri atau menanamnya di semukan belukar yang tersembunyi agar tidak diganggu oleh hewan. Penanaman juga dilakukan dengan menggunakan metode konservasi atau jarak antar pohon tidak begitu jauh,”ujar Roy.

Setiap kali ada kesempatan, kata Roy, timnya selalu mengontrol tanaman yang sudah ditanami minggu-minggu sebelumnya. Ini dilakukan untuk memastikan tanamannya hidup. Jika ada yang mati, maka mereka akan menyulamnya dengan anakan pohon lagi.

Inspirasi Giat Belu
Giat Malaka Hijau, kata Roy sebenarnya terinspirasi oleh Giat Belu Hijau yang sudah dimulai Frans Tandjung dan para pecinta lingkungan di Kabupaten Belu sebagai kabupaten induk yang melahirkan Kabupaten Malaka.

Giat ini melibatkan beragam orang dari segi agama, suku, ras maupun golongan. “Siapa saja kami ajak terlibat tanpa embel-embel apapun. Bagi yang punya waktu dan tenaga, silahkan datang dan bergabung, di lokasi. Bagi yang tidak punya waktu dan tenaga tetapi punya cinta dan harapan yang sama melestarikan alam, dapat mendonasikan sebagaian dari yang dimilikinya, untuk makan sore dan sedikit biaya tranportasi peserta dan tranportasi anakan pohon yang harus diambil ke Kupang, Ibu Kota Provinsi NTT,”ujar Roy.

Roy menyatakan, pihaknya selalu membuka donasi di setiap awal minggu giat kegiatan sebelum turun ke lapangan. Anda yang ingin mengenal lebih dekat komunitas ini bisa menghubungi di nomor: 08119297595 (WA) atas nama Roy Tei Seran atau kirim email ke Teyseranroy@gmail.com.

Previous articleTransformasi, Kolaborasi, dan Integritas  dalam Lembaga Pendidikan di Tingkat  Dasar dan Menengah 
Next articleKelas Daring Suara Kebebasan, Tema : Mengenal Libertarianisme
Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here