Home Kajian ANJAY, LEBAY, ALAY & JABLAY: Menggoyang Norma-norma Baku Seks & Gender lewat...

ANJAY, LEBAY, ALAY & JABLAY: Menggoyang Norma-norma Baku Seks & Gender lewat ‘Performativitas’ Butler

902
0
Lutfi Agizal

P

engantar 

Polemik pengucapan kata “Anjay” yang viral di kanal YouTube pada akhir Agustus s/d awal September 2020 lalu antara artis Lutfi Agizal vs. barisan pembela “Anjay” seperti Young Lex, Rizky Billar, Nikita Mirzani,[i] yang kemudian ditimpali (dimoderasi) pesohor YouTube seperti Deddy Corbuzier[ii] dan Denny Sumargo[iii], meluber ke ranah publik yang lebih luas. Menurut ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Sirait, ‘anjay’ bisa dimasukkan ke dalam kekerasan verbal seperti tercantum dalam UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Kata ‘anjay’ bisa ditujukan untuk merendahkan martabat dengan seolah-olah menggantikan kata ganti anjing.[iv]

Namun, polemik “Anjay” yang berujung pada ancaman pidana ini dianggap “lebay” oleh sebagian kalangan pengguna internet aktif (netizen), terutama mereka yang mendaku dirinya sebagai ‘kaum Milenial.’[i] Liputan tim CNNIndonesia.com mendapatkan dua komentar berikut dari dua orang remaja Gen. Milenial. Yang pertama, seorang pramusaji di daerah Kalibata bernama Ibnu Said (21). Ia mengaku kerap menggunakan ‘anjay’ dalam pergaulan sehari-hari ketika mendapati situasi yang dianggap keren. Yang kedua, seorang mahasiswi dari sebuah kampus swasta di Jakarta bernama Indriani Saputri (21). Menurutnya, kata ‘anjay’ kerap kali ia gunakan bukan sebagai kata kasar dengan tujuan menyakiti hati seseorang, tapi untuk mengungkapkan ekspresi kekaguman (‘wow’ aja gitu). Jadi, mengancam untuk memidanakan orang yang ‘tertangkap’ mengucapkan kata “anjay” itu dianggap “lebay” (berlebihan), bahkan berpotensi ‘overkriminalisasi.’[ii]

Lantas, bagaimana sebenarnya memahami persoalan yang sedang terjadi ini? Apakah viralnya “Anjay” ini hanyalah fenomena sosio-linguistik “code-switching” seperti yang pernah terjadi bertahun-tahun sebelumnya lewat mentasnya trilogi bahasa Prokem (Gaul) “alay, lebay, jablay” yang dipopulerkan pedangdut Lolita pada Agustus 2011[i]? Atau, justru viralitas “Anjay” ini dapat dianalisis sebagai ikhtiar subversif untuk menggoyang obsesi dan fiksasi sebagian besar orang pada acuan moralitas dan identitas sosio-institusional dan sosio-budaya-politis yang tampaknya dominan-permanen padahal sebenarnya kontingen? Dalam arti yang terakhir ini, viralitas ‘Alay, Lebay, Jablay dan Anjay’ menarik dan terbuka untuk dikaji menggunakan lensa teoritis Performativitas versi Judith Butler (1990, 2004).

“justru viralitas “Anjay” ini dapat dianalisis sebagai ikhtiar subversif untuk menggoyang obsesi dan fiksasi sebagian besar orang pada acuan moralitas dan identitas sosio-institusional dan sosio-budaya-politis yang tampaknya dominan-permanen padahal sebenarnya kontingen?”

Mengulik Performativitas dalam Gender Trouble (Butler, 1990)

“Tidak ada konsep yang lebih sentral dalam hal analisis gender dan seksualitas selama empat puluh tahun terakhir ini selain konsep ‘performativitas gender’ yang diajukan Judith Butler (1990)—juga meskipun konsep itu, dalam perjalanan waktu, sudah banyak dikontestasi” (Hurley, 2015). Dengan meminjam (dan mengritik) gugus ide dari para pemikir Prancis seperti Claude Lévi-Strauss, Michel Foucault, Jacques Lacan, Julia Kristeva dan Monique Wittig, juga melibatkan diri dalam perdebatan seputar teori feminis abad XX serta konstruktivisme sosial dalam isu gender dan psikoanalisis, Gender Trouble (terbit perdana 1990) merupakan teks kunci dalam filsafat Feminis, kajian gender, dan teori queer.

Claude Lévi-Strauss

D

alam Gender Trouble, Butler mengeksplorasi hubungan antara identitas dan kekuasaan sekaligus menantang “konstruksi kategoris perempuan sebagai subjek yang koheren dan stabil” (Shams, 2020: 15). Bagi Butler, gender bukanlah substansi metafisik yang ‘hadir lebih dulu’ (precedes) daripada ekspresi materialitasnya, yaitu tubuh (body) dan ketubuhan (embodiment). Sudah sejak awal-mulanya, gender adalah konstruksi sosial dan dampak dari wacana yang me-natural-kan hal yang tidak natural demi pelanggengan heteroseksisme. Inilah inti dari teori performativitas gender. Gender disebut performatif dan bukan ekspresif karena esensi atau identitas yang mau ditunjukkan olehnya merupakan “fabrications manufactured and sustained through corporeal signs and other discursive means” (Butler, 1990: 173).

Gender bukanlah substansi metafisik yang ‘hadir lebih dulu’ (precedes) daripada ekspresi materialitasnya, yaitu tubuh (body) dan ketubuhan (embodiment)

Beberapa halaman kunci dari Gender Trouble di bawah ini menguatkan premis di atas:

Bagian yang di-highlight tertulis sebagai berikut: “If the rules governing signification not only restrict, but enable the assertion of alternative domains of intelligibility, i.e., new possibilities for gender that contest the rigid codes of hierarchical binarisms, then it is only within the practices of repetitive signifying that a subversion of identity becomes possible” (kata yang di-italic merupakan penekanan dari Butler sendiri, bukan dari penulis). Dibahasakan secara lebih ringkas, karena kategori gender bukan terberi (given), namun hadir dan dikenali dalam langkah-langkah performatif yang kontinyu, yang menantang hirarki biner yang dominan, maka hanya lewat gugus praktik pemaknaan yang repetitiflah subversi identitas menjadi mungkin (Butler, 1990: 185). Subversi identitas itu di antaranya terlihat dalam bentuk performa parodi, seperti waria (drag) dan stilisasi pasangan lesbian B/F. Dalam arti ini, kategori gender itu ‘bermasalah’ sekaligus ‘mempermasalahkan’ ajegnya identitas pemaknaan tentang gender seperti yang dimaui Butler (McIntosh, 1991).

Performativitas sebagai Subversi Identitas Ajeg: Undoing Gender (Butler, 2004)

Dalam Undoing Gender (2004), Butler mengakui bahwa ketika menulis Gender Trouble dirinya masih teramat muda (34 tahun) dan belum menempati posisi yang ‘aman’ dalam lingkaran akademis. Ada dua tujuan di balik penulisan Gender Trouble. Pertama, Butler berikhtiar menyingkap borok heteroseksisme yang sudah menyebar dalam teori Feminis (Barat), dan kedua, ia mengajak pembaca untuk membayangkan sebuah dunia yang di dalamnya ada orang-orang yang hidupnya jauh dari kategori/norma-norma gender, yang mengalami kebingungan, yang tetap berupaya memahami bahwa diri mereka sedang menjalani hidup yang layak untuk dijalani (living livable lives), dan mendapatkan semacam pengakuan (recognition).

Jadi, Gender Trouble seperti pisau dengan ujung ganda: di satu sisi ia dipahami sebagai karya yang membawa martabat dalam pengertian humanis, di sisi lain ia mengganggu secara fundamental cara feminis dan teori sosial berpikir tentang gender (Butler, 2004: 207).

Ketika gender hadir dalam perbuatan, suatu kegiatan yang terus-menerus dilakukan, juga tanpa harus selalu disadari atau dikehendaki, bukan berarti gender itu sifatnya otomatis atau mekanis. Sama sekali bukan. Butler melihat ‘gender sebagai performativitas’ dalam kacamata ‘praktik dengan improvisasi juga meskipun dilakukan dalam bingkai keterbatasan.’ Selain itu, melakukan gender bukan tindakan tunggal (sendirian) namun selalu bersama dengan atau dilakukan untuk liyan, juga meskipun keberadaan liyan itu imajiner (Butler, 2004: 1).

“Ketika gender hadir dalam perbuatan, suatu kegiatan yang terus-menerus dilakukan, juga tanpa harus selalu disadari atau dikehendaki, bukan berarti gender itu sifatnya otomatis atau mekanis”

Jarak yang terbentang antara norma-norma sosial yang baku dengan perwujudan (inkorporasi) norma-norma tersebut itulah yang ditantang lewat konsep ‘gender sebagai performativitas.’ Norma tinggal dan bertahan sebagai norma sejauh ia dilakukan dalam praktik sosial dan dicita-citakan serta dilembagakan dalam dan melalui the daily social rituals of bodily life (Butler, 2004: 48).

Norma tinggal dan bertahan sebagai norma sejauh ia dilakukan dalam praktik sosial

Karena itu, alih-alih menegaskan subjektivitas lewat abstraksi berjarak dari keseharian, Butler justru menancapkan pemahaman tentang subjek yang melakukan gender dalam keakrabannya dengan tubuhnya dan bagaimana keakraban-keakraban tersebut senantiasa berada dalam bayang-bayang pengalamiahan kekuatan-kekuatan eksternal (misalnya, tampak dalam relasi kekuasaan yang didominasi patriarki) yang mau menuliskan tubuh perempuan dengan cara-caranya sendiri.

ilustrasi tubuh perempuan

Teori ‘Gender sebagai Performativitas’ dari Butler memang dapat diterapkan dalam setting organisasi dan dunia kerja seperti sudah dilakukan Kelan (2010), atau secara lebih khusus, dalam organisasi jurnalisme seperti dilakukan Jenkins & Finneman (2017). Tapi, dari kajian literatur, penulis menemukan celah penelitian yang masih minim menerapkan Teori ‘Gender sebagai Performativitas’ dalam konteks hadirnya ‘tetralogi’ bahasa gaul (Anjay, Lebay, Alay, dan Jablay) yang dikontestasi maknanya secara termediatisasi.

“Teori ‘Gender sebagai Performativitas’ dari Butler memang dapat diterapkan dalam setting organisasi dan dunia kerja seperti sudah dilakukan”

Karenanya, dengan bertolak dari Pengantar dan dua resume bacaan di atas, penulis mengajukan tiga pertanyaan diskusi berikut:

Pertama: Bagaimana menjelaskan viralitas ‘Anjay, Lebay, Alay, dan Jablay’ baik yang terjadi di kanal YouTube maupun yang “meluber” di media massa daring dalam model ‘gender sebagai performativitas’ (Butler, 1990)?

Kedua: Bagaimana pewacanaan bahasa gaul tersebut menjadi contoh ‘praktik dengan improvisasi’ dalam kerangka ‘subversi identitas ajeg’ (Butler, 2004)?

Ketiga: Siapakah subjek yang di-liyan-kan lewat viralnya ‘tetralogi bahasa gaul’ tersebut?

Internet is always helpful

REFERENSI

Rujukan Utama

Butler, J. (1990). Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. New York dan London: Routledge.

—. (2004). Undoing Gender. New York dan London: Routledge

Rujukan Pelengkap

Hurley, N. (2015). Book Notes. Judith Butler, Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity (1990). ESC: English Studies in Canada, 41(4), 15. DOI: https://doi.org/10.1353/esc.2015.0070

Jenkins, J. & Finneman, T. (2018). Gender trouble in the workplace: applying Judith Butler’s theory of performativity to news organizations. Feminist Media Studies, 18(2), 157-172. DOI: 10.1080/14680777.2017.1308412

Kelan, E. K. (2010). Gender Logic and (Un)Doing Gender at Work. Gender, Work & Organization, 17(2), 174–194. doi:10.1111/j.1468-0432.2009.00459.x

McIntosh, M. (1991). Book Review. Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity by Judith Butler. Feminist Review, 38, 113-114. http://www.jstor.org/stable/1395391

Shams, P. (2020). Judith Butler and Subjectivity: The Possibilities and Limits of the Human. Singapore: Palgrave Macmillan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here